My Story,  Opinion

Why I Started A Blog ?

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Assalaamu’alaikum. Hi everyone!

Kenapa aku ngeblog.

Banyak temen-temen yang nanya. Kenapa tiba-tiba aku ngeblog?

Maybe i’ll tell you a little story of me.

Aku udah sering nulis dari kecil.

Dari TK nulis diary dari yang gembok sampe yang ada passwordnya itu.

SD dan SMP aku nulis novel, mungkin temen-temen bisa cek di toko buku.

Tp pasti ga nemu. Kecuali di Shopping belakang Taman Pintar Jogja atau barkas. Soalnya udah kaga ada.

SMA aku nulis karya ilmiah, proposal, dan laporan penelitian. Mulai karena tuntutan, iya. Kuliah juga masih sama.

So, aku suka nulis? Actually not.

Nulis tu berat, cape, susah. Seriously, temen-temen tanya aja berapa lama writer atau blogger itu menulis satu judul.

Sebenarnya semua tulisan aku itu tak terkecuali berkat air mata. Karena ya, it’s not easy, and writing is not only playing your brain, but also your heart.

Aku bisa mainin imajinasiku sebebas apapun, seru. Tapi di sisi lain bisa bikin sendu.

Banyak yang bilang aku bikin blog itu untuk personal branding. Mentang-mentang pebisnis ehm. Bener banget, ga salah. Tapi itu bukan tujuan utama.

Aku akan tetap membranding diriku sebagai Yossinta, muslimah learner with lifetime struggle.

Dimana pertama kali Yossi serius nulis, aku isi blog lama aku ini dengan poetry-poetry curcol, cerita omong kosong, dan huru hara bodong yang ga tau juga apa tujuannya.

Tapi ada satu artikel yang ditulis khusus dari psikolog aku, tentang cerita mental illness aku.

Bukan sombong atau mengada-ada, mulai dari situ pengunjung blog aku melonjak sampe ribuan viewers per hari. Percikan api untuk sharing lebih banyak mulai menjadi.

Dan yang bener-bener bikin aku kebakaran pengen nulis dan nulis adalah… Orang-orang disekeliling aku. Ratusan orang messege, email, dan jauh-jauh nemuin aku bilang,

“Yossi, aku merasakan seperti kamu, tapi aku takut mengakuinya.”

“Yossi, aku punya teman sepertinya memiliki keadan seperti kamu. Aku peduli dengannya, tapi aku tidak tau harus berbuat apa.”

“Aku kira hanya aku yang merasakannya. Aku harus berbuat apa?”

Dan yang ga disangka-sangka adalah orang-orang tersangat dekat aku juga mengidap mental illness, bahkan udah parah banget. Ada yang depresi, skizofrenia, bipolar, social anxiety, bahkan thinking of suicide every single time. Kebanyakan malu, tidak tau harus apa, mau ke psikolog/psikiater mahal, atau penyakitnya terlanjur sudah menguasai dirinya. Mereka menganggap sakit ini tabu.

Seketika itu aku bener-bener pengen bilang ke semua penderita mental illness,

You’re not alone.

Dan di blog ini aku akan sharing seputar kehidupan aku, of course sebagai penderita mental illness tahunan, muslimah, mahasiswa, dan juga pecandu traveling. Dengan harapan tulisan-tulisan aku bisa bermanfaat buat temen-temen semua.

Selain itu, tentunya aku mau mengikat ilmu-ilmu dengan tulisan. Sebagian ulama menyebutkan bahwa,

Salah satu cara untuk menjaga ilmu adalah dengan menulis dan menghafalnya.

Sebagaimana yang dilakukan para ulama salaf yang saleh rahimahumullah dan para ulama setelah mereka (link sumber).

Wassalaamu’alaikum.

Barakallahu fiik 😊

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *