Article,  My Story,  Opinion

Lulus Nikah, Lanjut Sekolah atau Cari Nafkah?

Assalaamu’alaikum

Hi everyone!

Ada yang udah disodorin pertanyaan ginian?

Mahasiswa semester 5 mulai galau-galaunya menentukan masa depan. Pun aku.

Allah pasti akan memberikan arah tepat pada waktunya. Jalanin aja dulu, lihat lihat kondisi nanti bagaimana.

Banyak banget yang bilang gitu, kan? Terkesan sangat plegmatis.

Aku ga sepenuhnya setuju.

Tentunya aku punya impian. Aku punya target yang timely. Dan aku ga pernah mengabaikan sedikitpun kekuatan Yang Maha Kuasa. Seperti yang aku bahas di blog tentang impian ini.

“Si Yossi mah kebelet nikah dari SMP sampe aksel 2 kali.”

“S2 dulu ya lu, Yos, bareng suami?”

Temen-temen teh ngiranya pasti gitu mulu…

Ada benarnya. Apalagi ada beberapa orang yang sudah dateng ke Ayah Ono atau Mama Rommy, aku merasa harus secepatnya mempersiapkan diri kan πŸ˜•

Udah fix banget, aku nikah aja. Biar ga bebanin orang tua lagi.

….

Tapi kayanya langsung cari beasiswa S2 aja, karena pendidikan aku harus lebih tinggi dari Ayah dan Mamah. Aku harus bisa jadi ibu cerdas dan jadi idola bagi anak-anakku nanti.

But, on the other side aku pengen banget mulai mandiri finansial, karena itu butuh proses, harus mulai sedini mungkin!

Ok jadi.. ?

Actually, aku pribadi tidak menganggap nikah lebih baik, S2 dulu lebih baik, ataupun bisnis lebih baik. Itu semua tergantung bagaimana kondisi kamu dan apa yang kamu udah siapin.

Aku sendiri harus dapet 3-3nya. Nikah, S2, dan bisnis.

Aku udah ikut kajian pra-nikah, parenting, belajar kisah istri Rasulullah dan salafush shalih, cara mengurus rumah tangga, serta tentunya boost ilmu agama sejak usia 14 tahun. Kalo kamu pernah baca morning routine aku ya, buku bacaanku ga jauh-jauh dari situ hehe.

Aku udah persiapkan beasiswa LPDP sejak Semester 4. Aku siapin apapun persyaratannya sejak zaman jebul.

Dan aku udah mulai merintis usaha sejak Semester 5, dari dropship, bisnis kesehatan, impor, sampe peternakan.

Kenapa aku lakuin itu semua secepat mungkin? Karena aku melakukan persiapan, untuk masa depan.

Dimana menurut aku kesuksesan itu ketika kesempatan datang dan kita sudah siap. Kesempatan yang baik, tapi kitanya belum siap ya ga akan jadi apa-apa. So, aku gunakan all my entire time untuk memperbaiki diri dan mempersiapkan kemampuan. Ya, lagi-lagi untuk masa depan.

Bukan hanya masa depan diri sendiri, tapi orang tua aku khususnya.

Ayah Mama Yossi udah mulai tua.

Ayah Mama Yossi udah mulai kekurangan daya ingat sekarang.

Ayah Mama Yossi udah mulai sering kelelahan.

Ayah Mama Yossi udah mulai macem macem sakitnya.

Dan masih aja aku mikirin kesuksesan aku sendiri?

Oke, kalo kita sukses orang tua pasti bangga. Tapi kapan kita akan sukses? Butuh berapa tahun lagi?

Come on, move, Yos! Sekarang usia Ayah Ono 52 tahun. Kalau aja ayah diberi Allah usia rata-rata seperti Rasulullah 63 tahun (hanya simulasi, qadarullah Allah mencabut nyawa ayahku kapan). Berarti waktu aku paaling lama 11 tahun lagi, agar ayah bisa melihat dan merasakan langsung anaknya sukses. Padahal sesuai riset, rata-rata company bisa passive income sekitar 10 Tahun. Padahal aku mau habiskan waktu dengan ayah, selagi ayah masih bisa. Begitupun dengan Mama Rommy.

Dan aku sadar, semakin tua, orang tua aku udah ga butuh lagi tuh prestasiku buat dibangga banggain atau uang aku buat belanja ini itu.

Namun yang paaling dibutuhkan orang tua ketika sudah menua adalah waktu anaknya untuknya.

Itu juga alasan kenapa aku suka banget percepatan.

Namun bukan berarti aku tergesa-gesa meraih kesuksesan ini itu.

Tiada keaiban seseorang bila lenyap kesenangan darinya, tetapi keaiban yang sebenarnya ialah bila lenyap kesabarannya yang baik. (Aidh Al-Qarni)

“Sifat perlahan-lahan (sabar) itu berasal dari Allah. Sedangkan sifat ingin tergesa-gesa itu berasal dari setan.” (HR Al-Baihaqi)

Aku tidak tergesa-gesa, tapi aku bisa lebih cepat dengan menghilangkan waktu-waktu yang aku habiskan untuk diriku sendiri such as ngegame, nonton, nongkrong, shopping, dan hal yang sebenarnya tidak aku butuhkan.

Lalu aku menggantinya dengan hal-hal produktif lain. Tidak harus ngerjain proyekan melulu, loh. Produktif itu bisa jadi olahraga, membaca, minun air putih pun bisa nambah produktivitas. Aku bahas semuanya di sini.

So, setelah lulus ngapain?

Qadarullah aku wanita. Setelah beralih kepemilikan oleh suami, tidak lagi tanggung jawab pada orang tua.

Jadi sebelum itu terjadi aku ingin memiliki waktu bersama kedua orang tua aku (belum ada tanggung jawab kpd suami). Yakali cuman ngabisin waktu di rumah, aku plan kita jalan-jalan ke luar negeri, insyaaAllah umrah bersama. Jadi aku harus punya uang dulu untuk itu, dengan berbisnis.

Senyuman orang tuaku karena kesuksesanku itu patut diperjuangkan hingga darah-darah penghabisanku.

Di sela-sela itu tentu saja aku menuntut ilmu agama untuk persiapan menikah, serta menuntaskan hafalan dan mengajarkannya.

Sebelum nantinya aku menikah dan S2 bersama suami aku (biar ada mahram ketika safar), sibuk mengurus suami, rumah, dan anak.

Dan setelah S2 aku growing up my business until international scale of course, bersama network-network yang aku punya. Aamiin.

It just my plan, and of course i believe that Allah’s plan is more more beautiful than mine.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *