My Story,  Opinion

I Don’t Believe in Dreams.

If it’s still in your mind, it is worth taking the risk. Fight for a dreams.

One day, I have a dreams.

Aku selalu memiliki impian. Itu yang membuatku terus berjuang, bergerak maju bertujuan.

Bahkan impian-impianku buat aku ga bisa diam.

Dreams are not what you see in your sleep, dreams are thing that doesn’t let you sleep.

Aku sangat percaya padanya. Aku sudah merencanakan semuanya. Dengan seluruh jiwa raga, keringat, air mata, dan jeritan asa

,tapi,

tidak pernah bisa menggapainya.

Aku ingin SMP di Pesantren Assalam program Akselerasi. Aku berjuang meniti kepribadian diri, belajar mandiri, tes psikologi, bahasa Arab, dan sebagainya. Aku sudah berusaha sekuat tenaga hingga aku merasa pantas mendapatkannya.

Dan, benar! Sudah diterima!

Namun belum juga mendapat izin-Nya, ada-ada saja kendala.

Akhirnya aku nikmati saja. Mungkin yg aku butuhkan bukan di sana.

Masuk SMA aku kejar MAN Insan Cendekia Serpong. Aku berjuang bagaimanapun caranya agar bisa tercapai. Selalu menjadi peringkat paralel, menjuarai berbagai olimpiade fisika, belajar berbagai bahasa, buat ATM syari’ah yang dekat dengan asrama sana, serta segala sesuatunya.

Bisa, bisa, bisa! Bismillah aku sangat percaya. Aku berusaha, sujudku juga tak lepas dari permohonanku pada-Nya, hingga merasa pantas mendapatkannya.

Dan ternyata, tidak lagi.

Tidak bisa. Aku tidak menggapainya.

Oke tak apa, masih ber-asa.

Next.

Oke, apapun langkahku, aku tetap ingin menjadi dokter. Dengan predikat SMA ku yang bergengsi, kelasku akselerasi, prestasiku memadai, tentu aku optimis bisa masuk Pendidikan Dokter UGM.

Tapi ternyata aku tak sungguh-sungguh menginginkannya. Aku tidak pernah belajar mata pelajaran, aku tidak pernah membuka buku latihan, dan aku tidak suka dengan basa-basi anatomi!

Tidak ada dokter yang berpola sepertiku. Aku tidak cocok menjadi dokter.

Lalu aku meninggalkan keragu-raguan itu, menjadi sebuah keyakinan,

Aku ingin berbisnis saja, seperti Khadijah r.a. wanita mulia kaya raya. Mungkin tidak lagi di Indonesia.

Aku kejar prodi bisnis pada suatu universitas di Singapura dan Inggris. Aku siapkan segala sesuatunya, kuhabiskan waktuku padanya, hingga tak disangka-sangka semua berjalan sempurna!

Aku memutuskan untuk studi di Essex, UK, pada universitas bergengsi yang hanya membutuhkan 10 menit dari pusat kota. Betapa bahagianya seorang Yossinta terbayar sudah lelah dan asanya.

LoA sudah, beasiswa sudah, bahkan aku sudah menentukan tidur dimana dengan siapa, tinggal cus terbang dan yea. It is.

Namun suatu ketika,

“Kamu benar ingin ke sana?” Ayah berkata.

“Ya, Ayah. Aku yakin, insyaaAllah ini jalan Sinta selanjutnya. Lihatlah, aku telah membuktikannya, Ayah!”

“Coba libatkan hati, benarkah ini jalan dari-Nya? Kamu tetap ikut tes SBMPTN ya, tes mandiri di perguruan tinggi juga, kalau bisa di Jogja saja.”

“Tapi, Ayah, aku tidak mempersiapkan apa-apa. Aku tidak pernah belajar untuk tes-tes itu. Teman-temanku sudah latihan tes-tes itu selama berbulan-bulan, aku takut.”

“Berjuanglah, jangan hanya dipikir logika, keajaiban-Nya sering membuat terpana.”

“Baik, Ayah.”

Hanya sekali aku mencoba tes. SBMPTN.

Dan kedepannya aku tidak mau lagi bersentuhan dengan soal-soal seperti itu.

Namun selanjutnya aku diminta mendaftar ujian mandiri IPB, tapi aku merasa tidak mampu. Aku menghindarinya. Aku memutuskan merogoh tabunganku mendalam untuk mendaftar karantina tahfidz, Super Manzil, di Bogor.

Artinya, selama satu bulan aku tidak lagi mengikuti tes susah payah itu. Aman

Singkat cerita aku diterima SBMPTN Sekolah Bisnis IPB, Bogor. Saat itu aku sama sekali tidak tau apapun tentangnya. Bagaimana kuliahnya, lingkungannya, track recordnya, dan yang aku tau hanya inilah Sekoah Bisnis di PTN Indonesia yang seleksinya Saintek. Ah sudahlah!

Aku lelah, aku tak memiliki cita-cita.

Aku tidak mendapatkan satupun impianku. Salah siapa?!

“Janganlah kamu lemah dan jangan pula berduka cita, sedang kamu orang-orang yang lebih tinggi jika kamu beriman.” (QS Ali ‘Imraan : 139)

Dan tidak disangka-sangka,

Mungkin kita tarik mundur.

Ternyata MTs N Ponorogo menjadikanku mempelajari al-Qur’an dan Sunnah. Teladan membuatku hijrah dan berbenah. Dan di SB IPB aku bisa bertemu orang-orang luar biasa yang tetap ramah.

Semuanya di luar harapanku. Tidak ada di tulisan impianku. Namun ajaibnya, ini lah jalanku yang sebenarnya.

So, I don’t believe in dreams.

Aku tidak percaya pada impian, apabila itu hanya menjadi sebuah keinginan dengan ego mengekang.

Aku tidak percaya pada impian, apabila impian hanya di angan, tanpa ada arah dan perjuangan.

Aku tidak percaya pada impian, apabila masih ada percikan keraguan.

Dan untuk selanjutnya, aku tetap berani bermimpi. Aku percaya pada impian, apabila aku meletakkannya dengan benar.

Dimana aku memiliki keinginan, aku berjuang dan Tuhan yang memutuskan.

Bukankah, Allah telah mengatakan Berharaplah hanya kepada-Ku.

Maka berdo’alah kepada Allah

Ya Allah, terimalah tobatku, hilangkanlah kecemasanku, kabulkanlah doaku, kokohkanlah argumentasiku, pertajamlah pembicaraanku, berikanlah petunjuk pada hatiku, dan hilangkanlah perasaan dengki dalam dadaku.” (HR Abu Daud)

Percaya.

Dan apabila kamu belum mencapainya,

Jangan engkau mengira bahwa dunia diciptakan untuk melayani seseorang secara lengkap. Karena pada hakikatnya tiada seorang pun di muka bumi ini yang akan mendapatkan semua yang diinginkannya dan terbebas dari segala macam kekeruhan. (Aidh Al-Qarni)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *