2 Minutes Read,  Article

Jangan ke Jogja!

Mungkin kau juga merasakan, sudahlah di sini berisikan manusia-manusia yang bertahan
Bertahan dalam kesemrawutan kepentingan.

YOGYAKARTA

Kalau tidak mau jatuh cinta jangan ke Jogja.
Semua sudut kota ini romantis. Jogja tempat pulang yang ramah.
Dia memeluk siapa saja yang datang dengan bahagia, suka cita, kaki berdarah, hati terlunta,
ataukah luka bernanah atas lara karena asa yang sirna.

Kalau takut jatuh hati, jangan ke sini.
Apalagi ke angkringan, jangan.
Kopinya genit. Pemusik jalanan, candaan tukang becak menggelitik.

Jangan ke Jogja, sudah kubilang. Nanti kamu sakit hati.

Apabila kamu tak kuasa
dan memutuskan diri melangkahkan kaki,
entah untuk pergi atau sekadar lari patah hati,
kota ini berbisik padamu, “Aku punya sejuta cara membuatmu kembali,
dan seketika itu kamu sudah tangguh, berdamai tanpa belenggu masa lalu.”.

Ketika pilihan tersebut menyatakan, ya. Ya, kemana pun aku berlabuh, aku akan kembali

Romantis?!

Aku tahu. Tapi kadang membuat menangis

Karena sebenarnya kota ini sudah tidak menarik lagi. Dia sedang Sakit!
Sesak paru-parunya menghirup asap,
bergetar tanahnya menahan gedung-gedung bertingkat,
geram akan acuhnya manusia.

Bukankah yang sakit itu harus dirawat?

Sudah ada satu dua yang berjuang, peduli

Meskipun itu tidak cukup, perlu ratusan bahkan ribuan atau jutaan lagi!

Dan akhirnya, kamu tetap bisa jatuh cinta
Cinta dapat tak berujung pada sakit hati, asalkan kau juga turut memelihara dan merawatnya.

Merawat kesederhanaan,
tutur kata,
keramahan, dan
unggah-ungguh
Jogja yang penuh cerita.

Berjanjilah, maka boleh kamu ke sana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *