Article,  Uncategorized

When You Feel Like You’re Nothing

Apa kau pernah merasa kau tidak dianggap, merasa tidak berarti atau bahkan disakiti?

Inilah kisah yang sangat patut kamu ketahui 🙂


Julaibib namanya. Mungkin diantara kita ia masih terdengar asing, sebagaimana ia juga terasing dari kaumnya. Nama yang tidak biasa di kalangan bangsa Arab. Namanya tidak lengkap dan tidak bernasab. Ya, Julaibib terlahir tanpa tahu siapa kedua orang tuanya. Semua orang pun tak tahu dan tidak mau tahu tentangnya, nasabnya, atau dari suku mana dia berasal.

Ya, itulahnJulaibib. Adanya seperti tiada. Ia tersisih. Tampilan fisiknya membuat tak ada yang mau berdekat-dekatan dengannya. Wajahnya jelek. Posturnya pendek dan bungkuk. Kulitnya hitam. Dia juga sangat miskin. Pakaiannya lusuh dan usang. Kakinya pecah-pecah karena ia tak beralas. Tak ada rumah yang bisa dibuatnya untuk berteduh. Seorang pimpinan Bani Aslam, Abu Barzah pernah berkata tentang Julaibib, “Jangan pernah Julaibib masuk di antara kalian! Demi Allah, jika ia berani seperti itu, aku akan melakukan hal mengerikan padanya.”

Julaibib adalah orang yang tak diharapkan. Akan tetapi dirinyalah yang selalu berada di shaf terdepan dalam shalat dan jihad. Meski kebanyakan orang tetap menganggapnya tiada, tetapi tidak dengan Rasulullah SAW. Selaksa perhatian dan cinta selalu beliau tunjukkan kepada umatnya. Julaibib yang tinggal di selasar Masjid Nabawi auatu hari ditegur Rasulullah, “Julaibib, tidakkah engkau menikah?” Lembut suara Nabi memekarkan bunga jiwa Julaibib.

“Siapakah orangnya, ya Nabi, yang mau menikahkan anaknya dengan diriku ini?” Julaibib menjawab dengan senyuman. Tak ada kesan ia menyesali dan menyalahkan takdir. Rasulullah juga tersenyum, mungkin memang tak ada orang tua yang mau memiliki menantu sepertinya. Tapi keesokan harinya Rasulullah menanyakan hal yang sama kepada Julaibib.

“Julaibib, tidakkah engkau menikah?” Julaibib menjawab dengan jawaban yang sama. Begitu pula esoknya, tiga hari berturut-turut, pertanyaan yang sama berbalas denga njawaban yang sama.

Pada hari ketiga itulah Rasulullah mengajak Julaibib ke rumah salah satu pemimpin Anshar. Betapa bahagianya tuan rumah menerima kunjungan kehormatan dari Sang Nabi. Suatu hal yang ia yakini sedang membawa berita yang luar biasa, “Aku akan menikahkan putri kalian.” Kata Rasulullah kepada pemilik rumah.

“Ma sya Allah, alangkah indah dan berkahnya.”, si Wali mengira bahwa Rasulullah akan meminang anak gadisnya.

“Duhai betapa kehadiranmu akan enjadi cahaya yang menyingkirkan temara’n di rumah kami, Ya Rasul.”

“Bukan untukku,” kata Nabi. “Kupinang putrimu untuk Julaibib.”

“Untuk Julaibib?” Sang ayah gadis itu pun tercekat.

“Ya, kupinang putrimu untuk Julaibib.”

“Ya Rasulullah, tentang hal ini saya harus meminta pertimbangan istri saya.” Ada keraguan di wajah orang tua gadis itu. Menikahkan anaknya dengan Julaibib yang bukan siapa-siapa.

“Dengan Julaibib?” Istrinya berseru kaget seperti halnya sang suami. “Bagaimana mungkin? Julaibib yang jelek dan hitam, tak bernasab, tak berkabilah, tak berpangkat, dan tak berharta? Demi Allah, tidak! Tidak akan pernah anak kita menikah dengannya?!

Anak gadis yang mendengar percakapan mereka dari balik tirai angkat bicara. Cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya mengalahkan segalanya. “Abi dan Ummi, siapakah yang memintanya?” tanyanya menengahi perdebatan kedua orang tuanya.

“Apakah kita hendak menolak permintaan Rasulullah? Demi Allah, kirim aku padanya! Demi Allah, Rasulullah tiada akan membawa keburukan dan kerugian bagi diriku.”

Lalu, sang gadis itu membaca ayat ini, “Dan, tiadalah patut bagi laki-laki beriman dan perempuan beriman apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah ia sesat, sesat yang nyata.” (Q.S. Al-Ahzab : 36)

Rasulullah pun berdoa untuknya, “Ya Allah, limpahkanlah kebaikan atasnya, dengan kelimpahan yang penuh berkah. Jangan jadikan hidupnya payah dan bermasalah.”

Benarlah doa Nabi, Allah tunjukkan jalan keluar yang indah bagi semua masalahnya. Kebersamaan pasangan ini tidak berlangsung lama. Ternyata, Julaibib telah lama dirindukan oleh para bidadari suarga, meski di dunia ia memiliki istri yang shaleha. Julaibib juga diperhatikan oleh para penduduk langit.

Rasulullah sangat kehilangan Julaibib. Lalu adakah para sahabat juga merasa kehilangannya? Mari kita lihat bagaimana Rasulullah memberi pelajaran kepada para sahabatnya tentang perhatian dan kepedulian. “Apakah kalian kehilangan seseorang?” Kata Rasulullah usai pertempuran.

“Tidak Ya Rasulullah.” Serempak para sahabat menjawab. Seperti di awal cerita ini, adanya Julaibib seperti tiada. Para sahabat tidak merasakan kehilangan sosok kerdil itu.

“Apakah kalian kehilangan seseorang?” Rasulullah bertanya lagi. Wajah beliau mulai memerah.

“Tidak, ya Rasulullah…” Sebagian sahabat dengan rasa ragu dan was-was. Beberapa melihat sekeliling, memastikan ia tidak kehilangan seseorang.

Terdengar helaan nafas yang berat, “Aku kehilangan Julaibib.” Kata beliau.

Para sahabat tersadar dengan sosok yang dicari Rasulullah itu.

“Carilah Julaibib!” Ujar Nabi

Akhirnya Julaibib ditemukan. Ia gugur penuh luka. Di sekitarnya tujuh jasad musuh telah ia bunuh. Rasulullah dengan tangannya sendiri mengkafani Julaibib. Menshalatinya secara pribadi. Dan, berikut adalah kalimat terakhir beliau tentang Julaibib yang membuat iri semua sahabat.

“Ya Allah dia adalah bagian dari diriku. Dan aku bagian dari dirinya.”

Tarbiyah Cinta – Imam Al-Ghazali (Yon Machmudi dan Soraya Dimyathi), ikhtiar penjelasan ulang konsep cinta, rindu, dan rela yang ada dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin.

“Seandainya semua kitab tentang Islam musnah dan hanya tersisa Ihya’ Ulumuddin maka kitab tersebut cukup untuk menggantikan semua kitab yang musnah itu.” – Imam Nawawi, penulis Riyadush Shalihin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *