2 Minutes Read,  Poetry

Sedih, Kecewa, atau Depresi?

Untuk kamu yang sedang berjuang, melawan dirimu sendiri

Untuk kamu di luar sana, yang sedang bersembunyi

Untuk kamu yang menahan rasa sakit, luka, atau entah pikiran siapa yang merasuki batin, membuatmu terus berpikir

Bukalah matamu,

Sekali ini saja!

Hey, masih ada bekas air mata di pipimu

Hey, kulitmu sangat kering

Hey, sampah-sampah berserakan di kamar kamu

Hey, pemberitahuan di ponsel kamu sudah menumpuk

Tidak, tidak.

Aku tidak menyuruhmu untuk minum, makan, mandi atau terapi

Untuk meninggalkan kasurmu saja itu suatu hal yang memberatkan

Bahkan bangun di pagi hari pun jadi sebuah penyesalan

Aku tidak akan menyebutmu pemalas

Aku tidak seperti mereka

Mereka yang memberikanmu saran praktis, yang tidak pernah mengubah apapun!

Aku tau kamu sudah berjuang dengan sekuat tenaga kamu, dan tidak ada orang lain yang tau akan itu

Dengan kebohongan demi kebohongan yang kamu ciptakan sendiri, seakan dunia tidak mengerti

Seakan-akan, semua usahamu tak berarti

Semua kepercayaanmu tak berguna lagi

Semua harapanmu… Ah jangankan harapan, membuka mata saja sudah cukup untuk membuatmu benci

Seakan-akan Yang Kuasa tidak peduli

dan membuatmu merasa hilang dari muka bumi.

Duhai pejuang seumur hidup!

Pikiran dan logikamu selalu berkelahi

Perangmu itu tidak akan berhenti

Tidak, jika kamu tidak mulai berani,

percaya lagi.

Asal kamu tau, Tuhan itu ikut campur!

Dengan usahamu, langit itu menghargaimu

Dia siapkan siapa-siapa yang merindukanmu

Dia telah merancang kehidupanmu.

Jangan berhenti berharap

Jangan berhenti mencoba

Hanya kurang sedikit lagi, hingga kamu yakin, percaya.

Aku ingin memberikanmu ucapan selamat!

Selamat setelah sejauh ini atas pencarianmu terhadap seberkas cahaya,

ikatan harmoni,

hingga masa depan.

Kau telah mendapatkannya!

Jauh sebelum aku mengatakannya.

Karena sesungguhnya ia ada dalam dirimu sendiri.


Hi everyone!

Aku tulis blog ini ketika aku depresi. Dan sebenarnya ini adalah untuk aku sendiri. Haha, come on! Sudah 5 tahun aku mengalami hal semacam ini, meskipun akhirnya ya air mata lagi.

Namun, semua itu menjadi cukup berarti, agar seakan-akan ada yang peduli.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *